Tag Archive: komunikasi


Siapa yang tidak ingin disentuh melalui hatinya?
Masalah itu akan selalu ada, namun bagaimana kita membungkusnya, mengolahnya akan berpengaruh terhadap dampak permasalahan itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu adanya tuntutan atau somasi dari The Hindu Centre of Indonesia atas tayangan “Wayang Bandel” edisi 12 Mei 2012 dengan tema “Sastra Mahabarata” di stasiun televisi swasta Trans TV telah membuat kedua belah pihak semakin memanas. Terbukti pihak Trans TV sebagai pihak tertuntut masih bersikeras untuk tidak menutup progamnya, namun dilain pihak The Hindu Center of Indonesia mengancam kepada Trans TV untuk menghentikan tayangan Wayang Bandel dengan deadline selama 30 hari, jika tidak akan ada gelombang penolakan besar-besaran terhadap Trans TV dan Trans 7.

Yang memberatkan bagi The Hindu Centre of Indonesia ialah program tersebut sudah mempermainkan figur suci yang terdapat di kitab suci Weda, yaitu Yudhistira, Drupadi, Duryodhana, dan Dursasana. Pelecehan tersebut seperti kata-kata yang kasar, visualisasi, serta dialog yang jauh dari nilai kepatutan.

Namun, permasalahannya disini adalah tidak adanya kesengajaan pihak Trans TV untuk melecehkan umat Hindu melalui progamnya. Namun, kesalahan yang terjadi tanpa adanya unsur kesengajaan itu sudah menyulut api permusuhan diantara kedua belah pihak. Apa yang seharusnya dilakukan seorang Public Relations perusahaan untuk menghadapi krisis ini akan dibahas dalam tulisan ini.

Public Realations (PR) mempunyai andil dalam mengatur suasana di dalam maupun diluar perusahaan, antara karyawan dengan karyawan maupun antara perusahaan dengan masyaraka perusahaan. Pada tulisan ini akan dibahas lebih mendalam tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan seorang PR dalam memanajemen sebuah krisis atau konflik yang sedang terjadi antara perusahaan dengan masyarakat perusahaan, dan disni yang dimaksud masyarakat perusahaan dalam edisi ini adalah masyarakat yang menjadi bagian dari perusahaan Trans TV (penonton Trans TV dan khususnya bagi pemeluk agama Hindu).

Untuk itulah peran dari Jurus “Heart to Heart” dari PR sebagai agen problem solver, dan juga sebagai mediator sangatlah urgent melihat permasalahannya sudah berada di ranah kesakralan suatu agama (keyakinan). Pendekatan “ heart to heart “ menjadi senjata ampuh bagi seorang PR dalam menangani kasus-kasus yang terjadi sebagai langkah untuk meredam konflik, dan selanjutnya akan di bahas lebih mendalam apa itu PR sebagai Problem Solver dan Pendekatan Inovatif “ Heart to Heart” sebagai inti bahasan jurnal kali ini.

Public Relation

Beberapa ahli mendefinisikan istilah public relation dengan cara pandang berbeda, profesi ini dianggap sebagai sebuah proses atau aktivitas yang bertujuan untuk menjalin komunikasi antara organisasi dan pihak luar organisasi.

a. Pengertian Umum

Coulsin-Thomas (2002, hal 3) berpendapat bahwa public relations adalah usaha yang direncanakan secara terus-menerus dengan sengaja, guna membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dan masyarakatnya.

Karena itulah PR harus mempunya kendali yang kuat dalam meng-handle komunikasi dua arah antara kalangan internal maupun eksternal perusahaan agar tujuan dari public relations mewujudkan hubungan yang harmonis atau menciptakan opini publik yang baik.
b. Pengertian Khusus

Maria (2002, hal 7) berpendapat fungsi khusus manajemen yang membantu membangun dan memelihara komunikasi bersama, pengertian, dukungan, dan kerjasama antara organisasi dan publik, melibatkan masalah manajemen, membantu manajemen untuk mengetahui dan merespon opini publik, menjelaskan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani minat publik, membantu manajemen untuk tetap mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif, berguna sebagai sistem peringatan awal untuk membantu mengantisipasi tren, dan menggunakan penelitian dan teknik suara yang layak dalam komunikasi sebagai alat utama.
Peran Public Relations

Public Relations bertindak sebagai komunikator ketika manajemen berhubungan dengan para karyawan. Sehingga bisa dikatakan PR berusaha menjadi suri tauladan yang berasal dari pimpiunan dengan melakukan hubungan komunikasi yang efektif. Dengan demikian PR dituntut mampu secara continue merelasikan antara stakeholder perusahaan dengan masyarakat dengan lebih harmonis dan terjauhkan juga dari konflik-konflik karena kesalah pengertian dan bahkan sampai ke level kesengajaan.

Adapun peran Public Relations menurut Dozier & Broom (20 : 2000) antara lain :

a. Penasehat Ahli ( Expert Prescriber )

Seorang Public Relations yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya (Communicator Fasilitator ).

b. Fasilitator Komunikasi ( Communication Fasilitator )

Dalam hal ini, Public Relations bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal mendengar apa yang diinginnkan dan diharapkan oleh publiknya.

c. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah ( Problem Solving Process Fasilitator )

Peranan Public Relations dalam pemecahan masalah persoalan Public Relations ini merupakan bagian dari tim manajemen. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasihat ( adviser ) hingga mengambil rindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional.

d. Teknisi Komunikasi ( Communication Technician )

Peranan communications technician ini menjadikan Public Relations sebagai journalist in recident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan of communication in organizatio

Namun yang akan di bahas pada bahasan selanjutnya adalah tentang posisi seorang PR yang berperan sebagai pemecah masalah atau Problem Solving Process Fasilitator di dalam sebuah organisasi atau perusahaan.


Selain Sebagai Problem Solver Juga
Sebagai Sistem Manajemen

Public relations sebagai fungsi manajemen yang membangun dan mempertahnkan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut.
(Scott M. Cutlip, 2007:6)

Dalam penerapannya PR dalam perusahaan harus mampu menjadi pemecah konflik sebagai tugas dan fungsi keprofesionalitasannya di dunia kerja. Menjadi sebuah kewajiban sebagai seorang PR di dalam komunikasi internal perusahaan maupun dengan eksternal perusahaan dengan menjadi fasilitator proses penanganan konflik. Hal ini menjadikan perannya sangat dominan di dalam fase komunikasi manajerial.

Peranan PR dalam proses pemecahan masalah ini adalah bagian dari tim manajemen. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasihat hingga mengambil keputusan dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional.
Ketika Seorang PR melakukan peran ini, mereka berkolaborasi dengan manajer lain untuk mendefinisikan dan memecahkan masalah. Mereka menjadi bagian dari tim perencanaan strategies. Kolaborasi dan musyawarah dimulai dengan persoalan pertama dan kemudian sampai ke evaluasi program final. Praktisi pemecah masalah membantu manajer lain untuk dan organisasi untuk mengaplikasikan PR dalam proses manajemen bertahap yang juga dipakai untuk memecahkan problem organisasional lainnya.

Selama ini Public Relations (PR) sering kali dipisahkan dari sebuah sistem manajemen. Apabila ada sebuah masalah pada sebuah institusi maka saat itulah PR diturunkan. Padahal seharusnya PR tidak diposisikan seperti itu. PR harus diposisikan sebagai bagian dari sistem tersebut. PR memang mencakup banyak hal, salah satunya adalah menjual. PR dapat menjual banyak hal mulai dari yang tangible seperti produk dan yang intangible seperti pelayanan, pembentukan image, dan reputasi dan lain-lain.

Fungsi Manajemen PR
Memperkirakan, menganalisis, dan menginterpretasikan opini dan sikap publik, dan isu-isu yang mungkin mempengaruhi operasi dan rencana organisasi, baik itu pengaruh buruk maupun baik.

1. Memberi saran kepada manajemen di semua level di dalam organisasi sehubungan dengan pembuatan keputusan, jalannya tindakan, dan komunikasi, dan mempertimbangkan ramifikasi publik dan tanggung jawab sosial atau kewarganegaraan organisasi.
2. Meriset, melaksanakan, dan mengevaluasi secara rutin program-program aksi dan komunikasi untuk mendapatkan pemahaman publik yang dibutuhkan untuk mendapatkan pemahaman publik yang dibutuhkan untuk kesuksesan tujuan organisasi. Ini mungkin mencakup program marketing, finansial, pengumpulan dana, karyawan, komunikasi atau hubungan pemerintah, dan program-program lain.

3. Merencanakan dan mengimplementasikan usaha organsasi untuk memengaruhi atau mengubah kebijakan publik

4. Menentukan tujuan, rencana anggaran, rekrutmen dan training staf, mengembangkan fasilitasnya-ringkasnya, mengelola sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan semua hal tersebut di atas

Studi Kasus

Konflik antara perusahaan Trans TV dengan Hindu Centre of Indonesia dalam kasus pemboikotan terhadap acara “Wayang Bandel” dinilai sangatlah riskan apabila kedua belah pihak terus memanas. Karena pelecehan unsur sara dinilai sudah menempel pada tayangan tersebut. Beberapa contoh yang dapat disimak, terjadi kesalahan penyebutan tempat dan nama-nama suci secara sengaja oleh para artis. Seperti Indrapasta menjadi Indraprahasta, Dursasana menjadi Bursasana, Duryadana menjadi Burdayana dan juga termasuk kata ‘Mantra’ diganti jadi ‘Mandra’. Padahal Mantra merupakan bahasa sansekerta dan identik dengan ritual hindu yang disucikan dan diagungkan. Hal itu pastilah sangat melukai perasaan pemeluk agama Hindu, bahkan kasus ini telah sampai ke level internasional.

Meski demikian Trans TV menolak untuk menghilangkan tayangan tersebut karena mungkin faktor latar belakangnya perusahaan industri serta komersial juga dinilai menjadi ruh perusahaannya, akan tetapi yang menjadi masalah tidak harus menyinggung keyakinan masing-masing karena khalayak mereka luas, dan mempunyai ragam keyakinan.
a. Teori Komunikasi Massa

Komunikasi Massa (Mass Communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (Surat Kabar, Majalah) atau elektronik (radio, televisi) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat.
Artinya sebagai media komunikasi di haruskan mampu untuk bagaimana media memberikan dampak positif ternadap khalayak bukan malah meresahkan khalayak
b. Teori Normatif Media
Teori normatif media massa memiliki gagasan pokok bagaimana media seharusnya, atau setidaknya diharapkan, dikelola dan bertindak untuk kepentingan publik yang lebih luas maupun untuk kebaikan masyarakat secara keseluruhan. Ini berangkat dari kenyataan bahwa media diasumsikan tidak hanya memiliki dampak obyektif tertentu terhadap masyarakat, namun media juga menjalankan tujuan-tujuan sosial tertentu. Di antaranya adalah bahwa media bisa digunakan untuk menghasilkan dampak yang direncanakan (intended effect) yang dianggap positif. Berbicara tentang teori normatif, maka rujukannya adalah gagasan mengenai hak dan kewajiban yang mendasari harapan akan munculnya hal-hal baik yang dilakukan oleh media bagi masyarakat.
Masalahnya adalah bahwa media dalam masyarakat yang bebas tidak memiliki kewajiban selain apa yang selama ini dirujuk dan yang diterima apa adanya. Maksudnya, sebagai sebuah institusi, posisi media kerap sama dengan institusi sosial yang lain dalam hala relasinya dengan masyarakat. Di samping bahwa media tidaklah dijalankan oleh pemerintah maupun bertindak atas nama masyarakat. Karenanya, kewajiban media adalah sama dengan institusi lain maupun warga masyarakat secara umum. Yang dikehendaki adalah tidak menyakiti dan merugikan yang lain. Media memiliki kebebasan untuk menentukan berbagai tujuannya.

Dalam rangka mengatur dirinya sendiri, teori normatif media massa memiliki dua sumber:
1. Sumber internal, berasal dari konteks historis bahwa media dalam masyarakat modern memiliki peran dan relasi yang kuat dengan lembaga politik, dan juga memiliki kemampuan untuk menciptakan opini publik.

2. Sumber eksternal, adalah harapan dari khalayak, bahwa media dan khalayak (yang juga berkembang pada pihak lain seperti pengiklan) diikat oleh sebuah relasi ekonomi. Karenanya, ada semacam tuntutan eksternal agar media bisa berperilaku secara normatif tertentu.
Dari kedua teori diatas dapat disimpulkan perlu adanya media professional untuk memediasi konflik ini, setelah Trans TV sebagai media yang dalam kasus ini dianggap belum bisa menjadi yang diharapkan oleh sekelompok masyarakat (Umat hindu) sekarang peran media yang satu ini sangat dinanti kecakapannya dalam meredam konflik ini, yaitu adanya figur Public Relation di dalam perusahaan.
Seperti yang telah di ulas diatas, PR sebagai Problem Solver menjadi tugas dominan untuk menjaga keharmonisan hubungan perusahaan dengan masyarakatnya dan dalam kasus ini, menjadi keharmonisan hubungan perusahaan Trans TV dengan khalayak pemirsanya (masyarakat) secara berkesinambungan.

Heart to Heart atau dari hati ke hati, segala sesuatu yang bersumber dari hati terlebih dahulu yang dikombinasikan dengan kecakapan akal akan menjadi senjata ampuh bagi PR untuk menyelesaikan sebuh konflik.
Jurus “Heart to Heart“ yang diterapkan PR Trans TV dalam meredam konflik diantara langkah-langkah yang sudah dilakukannya adalah :

Meminta Maaf

Pada kasus ini, artis-artis yang berperan dalam Wayang Bandel, seperti Olga Syahputra, Jessica Iskandar, Arumi Bachsin, Ayu Dewi, dan lainnya juga telah memintaa maaf terhadap publik, dan khususnya kepada umat Hindu Indonesia. Mereka akan memperbaiki dan bersikap hati-hati untuk ke depannya agar tidak lagi dianggap melecehkan agama. Menjadi suatu langkah yang tepat bagi seorang Public Figur saat pertama kali memnjalin hubungan yang sempat terganggu pasca konflik. Sederhana namun essensi Heart to Heart- nya akan menjadi ruh utama sebelum menuju ke langkah berikutnya. Tidak hanya itu sebagai seorang PR perusahaan Hadiansyah Lubis, Manager Humas Trans TV juga menyampaikan permohonan maaf kepada umat Hindu yang tergabung dalam The Hindu Center of Indonesia sesaat pertama kali mendapatkan teguran.

Meski begitu kata “Maaf” bukanlah hal yang gampang diresapi bagi pihak korban sehingga diperlukan cara yang tidak semudah membalikkan telepak tangan apalagi melihat urusan yang sudah pelik. Di dalam prakteknya terkadang merminta maaf tidak lantas menyelesaikan masalah tetapi malah sebaliknya, agar permintaan maaf benar-benar menjadi senjata yang efektif untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi harus memuat trik-trik ini.
1. Pemilihan waktu yang tepat sebagai kepekaan perusahaan

Di saat suasana dirasa tepat lancarkan perminta maafan itu, pihak Trans TV yang di wakili oleh humasnya sangat mengerti kapan saatnya harus mengungkapkan hal itu. Tidak terlalu lama dari kejadian dan juga tidak tergesa-gesa dalam mengungkapkan, itu akan membuat citra bahwa perusahaan lebih mengerti. Dan begitu pula juga tidak terlalu lama dalam meminta maaf menunjukkan wujud kepekaan perusahaan terhadap kesalahan yang terjadi.

Suasana sangat mempengaruhi, ketika seseorang sedang emosi, bisa saja permintaan maaf itu tidak akan diterima.

2. Menyadari kesalahan

Mengakui kesalahan akan menjadi jurus yang mampu meluluhkan pihak yang bersangkutan dan membuat permintaan maaf dapat diterima. Tidak hanya menggandalkan rayuan “pengakuan kesalahan” namun harus dilengkapi dengan rasa tanggung jawab atas semua yang telah terjadi, seperti pengevaluasian progam Wayang Bandel oleh pihak Trans TV menunjukkan rasa tanggung jawabnya sebagai bentuk pengakuan kesalahan yang kedepannya konflik ini tidak akan terulang kembali.

3. Memberikan penjelasan

Meyakinkan pihak korban bahwa hal ini tidak akan terjadi kembali, sebenarnya tidak ada maksud untuk membuat konflik seperti ini, dengan keseriusan tentunya. Mengadakan press conference, di umumkan melalui media masa sebagi bukti penjelasan terhadap khalayak luas seperti yang telah dilakukan humas/ PR trans TV sesaat setelah terjadi konflik.

4. Ganti rugi

Agar lebih sempurna tawarkan perbaikan citra bagi pihak korban, mungkin saja kesalahan itu sudah menjalar kedampak yang sangat merugikan korban. Namun seyogyanya haruslah tanggung jawab itu selalu ada, toh nanti timbal baliknya terhadap citra perusahaan juga.
Meskipun terkadang hanya pemanis namun trik yang keempat ini sangatlah penting bagi pengusai konflik, contohnya memberi hadiah juga sangat membantu proses mediasi pasca konflik.
Mengevaluasi Isi Progam

Langkah terakhir dalam jurus ini adalah melakukan penilaian atas persiapan, implementasi, dan hasil program. Penyesuaian akan dilakukan bersamaan dengan program yang diimplementasikan, dan didasarkan pada evaluai atau umpan balik (feedback) tentang bagaimana program itu berhasil atau tidak. Program akan dilanjutkan atau dihentikan setelah menjawab pertanyaan “Bagaimana keadaan kita sekarang atau seberapa baik langkah yang telah kita lakukan?”
Masing-masing langkah adalah penting, namun proses itu dimulai dengan pengumpulan data untuk mendiagnosis problem. Informasi dan pemahaman yang terbentuk di langkah pertama akan mendorong dan memandu langkah berikutnya dalam proses manajemen Public Relations. Dalam praktiknya, tentu saja diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi tidak dapat dipisahkan secara tegas seperti itu, sebab proses ini berkelanjutan dan bersifat siklis dan diaplikasikan dalam seting yang dinamis.

Evaluasi sendiri menjadi sebuah kode etik bagi seseorang yang berprofesi sebagai PR di perusahaan manapun. Karena itulah yang menjadi sebuah tangggung jawab moral dan profesional terhadap perusahaan, masyarakat bahkan untuk dirinya sendiri. Fungsi manajemen melakukan evaluasi terhadap sikap dua publik yaitu antara internal perusahaan dengan masyarakat perusahaan adalah mengidentifikasikan kebijakan dan prosedur seseorang atau sebuah perusahaan terhadap publiknya, menyusun rencana serta menjalankan program-program komunikasi untuk memperoleh pemahaman dan penerimaan publik (Kasali, 2000:7).
Kemampuan manajerial atau kepemimpinan seorang PR dapat diartikan sebagai kemampuan mengantisipasi masalah dalam dan luar organisasi,termasuk kemampuan untuk evaluasi. Karena evaluasi memanajemen krisis pada tahap resolusi pasca konflik. Seperti yang telah kita ketahui bersama jurus Heart to heart pihak Trans TV ialah telah dilakukannya evaluasi progam ”Wayang Bandel” guna memperbaiki isi tayangan yang dianggap kurang sesuai, karena adanya seorang PR ditargetkan untuk, Public Understanding, Public Confidence, Public Support, Public Cooperation bagi perusahaan. Sehingga dengan evaluasi tersebut kedepannya tidak ada lagi progam yang menyeleweng dan seperti tujuan semula konflik yang terjadi segera usai.

Proses Public Relations selalu dimulai dari mengumpulkan fakta dan diakhiri pula dengan pengumpulan fakta. Untuk mengetahui prosesnya sudah selesai atau belum, seorang Public Relations perlu melakukan evaluasi atas langkah-langkah yang telah diambil. Maka, tahap ini akan melibatkan pengukuran atas hasil tindakan di masa lalu. Penyesuaian dapat dibuat dalam program yang sama, atau setelah suatu masa berakhir. (Kasali, 2000: 84-85).

Disini pihak Trans TV sudah berusaha untuk menjalin hubungan kembali guna membuat kondisi komunikasi yang lebih baik antara perusahaan (Trans TV) dengan masyarakat khalayaknya (The Hindu Center of Indonesia) menggunakan strategi “Heart to Heart Public Relations” jurus harmonis yang dengannya diharapkan suasana kembali damai diantara kedua belah pihak.

Prolog

Gnothi Seauthon (kenalilah dirimu).

Motto yang menjadi sumber berkembangnya filsafat di Yunani. Gnothi Seauthon- kenalilah dirimu!

Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, ilmu komunikasi mempunyai peran utama atau subyek sebagai pelaku utama dalam proses berjalannya sebuah komunikasi yaitu manusia.

Sebelum berbicara tentang komunikasi terlebih dahulu perlu dibahas faktor utamanya yaitu, manusia itu sendiri dengan menggunakan kajian ilmu psikologi.

Dalam versi psikologi ahli linguistic dan ahli teknik mempunyai tugas yaitu sebagai berikut:

  • ahli linguistic membahas komponen-komponen yang membentuk struktur pesan
  • ahli teknik menganalisa berapa banyak ”noise” terjadi di jaklan sebelum pesan sampai pada komunikate, dab berapa banyak pesan yang hilang

PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Fokus psikologi komunikasi adalah manusia komunikan. Sebagai psikolog, kita memandang komunikasi justru pada perilaku manusia komunikan. Karena itu, penting terlebih dahulu kita mengenal diri kita

Psikologi mulai masuk ketika membicarakan bagaimana manusia memproses pesan yang diterimanya.

Bagaimana cara berpikir dan cara melihat manusia dipengaruhi oleh lambang-lambang yang dimiliki.

  1. Konsepsi Psikologi Tentang Manusia

ada 4 Teori pendakatan psikologi

  1. Psikoanalisis
  2. Kognitif
  3. Bahaviorisme
  4. Humanisme

Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisis

Menurut Freud

Perilaku manusia hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian Id, Ego, dan Superego.

Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme

Dalam konsep ini manusia dipandangs ebagai robot tanpa jiwa, tanpa nilai.

Menganalisa perilaku yang tampak saja, yang dapat di ukur , dilukiskan dan diramalkan.

Konsepsi Manusia dalam Psikologi kognitif

Berpendapat bahwa manusia bukan lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, akan tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berfikir Homo Sapiens

Aliran psikologi Gestalt

  • Manusia tidak memberikan respon kepada stimuli secara otomatis. Manusia adalah organisme aktif yang menafsirkan dan bahkan mendistorsi lingkungan.
  • Perilaku manusia harus dilihat dalam konteksnya.

Konsepsi Manusia dalam Psikologi Humanistik

Beberapa poin penting yaitu:

  • Perhatian pada makna kehidupan

Manusia bukan saja pelakon dalam kehidupan, bukan saja pencari identitas tetapi juga pencari makna.

Ada sebuah kata bijak dari Victor E. Frankl

“Manusia justru menjadi manusia ketika mempertanyakan apakah hidupnya bermakna”.

  1. Faktor-Faktor Personal yang mempengaruhi Perilaku Manusia
  1. Biologis

Manusia tidak ada bedanya dengan binatang.

Ketika manusia tidak makan selama sehari ia akan merasa lapar begitu juga kucing ketika dalam keadaan yang sama.

Adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, dan bukan merupakan pengaruh lingkungan.

  1. Sosiopsikologis

Ada tiga komponen

  1. Afektif

Aspek emosional dan dari factor psikologis.

(sosiogenesis, sikap dan emosi)

SOSIOGENIS

Mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam membentuk perilaku sosial.

Berbagai klasifikasi motis sosiogenis :

  • W.I Thomas dan Florian Znaniecki
  1. Keinginan memperoleh pengalaman baru
  2. Keinginan untuk mendapat respons
  3. Keinginan akan pengakuan
  4. Keinginan akan rasa aman
  • David McClelland
  1. Kebutuhan berprestasi
  2. Kebutuhan akan kasih dan saying
  3. Kebutuhan berkuasa
  • Abrham Maslow
  1. Kebutuhan akan rasa aman
  2. Kebutuhan akan keterkaitan dan cinta
  3. Kebutuhan akan penghargaan
  4. Kebutuhan untuk pemenuhan diri

SIKAP

Definisi

  • Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku tetapi kecenderungan untuk berperilaku denagn cara-cara tertentu terhadap objek sikap
  • Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi
  • Sikap relative lebih menetap
  • Sikap memandang aspek avaluatif, artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan
  • Sikap timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar

EMOSI

Merupakan bumbu-bumbu kehidupan, tanpa emosi hidup ini kering dan gersang

Ada empat fungsi emosi yaitu:

  1. Pembangkit energy
  2. Pembawa informasi
  3. Pembawa pesan
  4. Sumber informasi tentang keberhasilan kita

Emosi berbeda- beda dalam hal intensitas dan lamanya, ada emosi ringan, berat, dan desintegratif.

  1. Kognitif

Aspek intelektual, berkaitan apa yang diketahui manusia.

KEPERCAYAAN

Merupakan keyakianan akan hal itu salah atau benar atas dasar bukti atau sugesti otoritas, pengalaman dan intuisi.

KEBIASAAN

Aspek perilaku manusia yang menetap berlangsung secara otomatis tidak direncanakan.

KEMAUAN

  • Kemauan erat kaitannya dengan tindakan
  • Ada yang mendefinisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan
  1. Konatif

Aspek volisional, berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

  1. Faktor-Faktor Situasional yang mempengaruhi Perilaku Manusia
  1. Ekologis

Bahwa keadaan alam mempengaruhi gaya hidup dan perilaku.

  1. Rancangan dan Arsitektural

Perilaku lingkungan yang dibuat manusia tehadup pola perilaku penghuninya. Satu rancangan arsitektur mempengaruhi pola komunikasi diantara orang-orang yang hidup dalam naungan arsitektural tertentu.

  1. Temporal

Yang mempengaruhi manusia bukan saja dimana mereka berada tetap juga bilamana mereka berada.

  1. Suasana Perilaku (Behavior Setting)

Setiap suasana terdapat pola-pola hubungan yang mengatur perilaku orang-orang di dalamnya.

  1. Teknologi

Lingkungan teknologi membentuk serangkaian perilaku sosial yang sesuai dengannya (sociosphere). Bersamaan dengan itu tumbuhlah pola-pola penyebaran informasi (infosphere) yang mempengaruhi suasana kejiwaan (psychosphere) setiap anggota masyarakat.

  1. Faktor Sosial

Dari segi komunikasi, teori penyebaran inovasi dan teori kritik, memperlihatkan bagaimana system komunikasi sangat dipengaruhi oleh struktur sosial. Karakteristik populasi seperti usia,kecerdasan, karakteristik biologis mempengaruhi pola-pola perilaku anggota-anggota populasi itu. Misalnya kelompk orang tua melahirkan pola perilaku yang pasti berbeda dengan kelompok anak-anak muda.

  1. Lingkungan Psikososial

Persepsi kita tentang sejauh mana lingkungan memuasakan atau mengecewakan kita, akan mempengaruhi perilaku kita dalam lingkungan itu.

  1. Stimuli yang Mendorong dan Mempengaruhi Perilaku

Kendala situasi yang mempengaruhi kelayakan melakukan perilaku tertentu. Ada situasi yang memberikan rentangan kelayakan perilaku(behavior appropriateness) seperti situasi di taman,

Situasi permitif dimana orang bisa bebuat sekehandak hatinya tanpa rasa malu, sebaliknya situasi estriktif menghambat orang untuk berperilaku sekehandak hatinya.

MODEL-MODEL KOMUNIKASI

MACAM-MACAM MODEL KOMUNIKASI

Sebagai alat untuk menjelaskan fenomena komunikasi, model mempermudah penjelasan dalam penjabaran tentang fenomena komunikasi itu sendiri. Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak, denagn menonjolkan unsur-unsur  terpenting dalam fenomena tersebut. Model jelas bukan fenomena itu sendiri.

Fungsi suatu model adalah member ikan teoretikus suatu struktur untuk menguji temuan mereka dalam dunia nyata[1]. Meskipun demikian, model, seperti juga definisi atau teori. Gordon Wiseman dan Larry Barker[2] mengemukakan bahwa model komunikasi mempunya tiga fungsi:

  1. Melukiskan proses komunikasi
  2. Menunjukkan hubungan visual
  3. Membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi

Deutsch menyebutkan bahwa model mempunyai empat fungsi:

  1. Mengorganisasikan
  2. Heuristik
  3. Prediktif
  4. Berapa banyak ; pengukuran, mengukur fenomena yang diprediksi[3]

→      Fungsi-fungsi tersebut pada gilirannya merupakan basis untuk menilai suatu model:

  1. Seberapa umum (general) model tersebut? Seberapa banyak bahan yang diorganisasikan nya, dan seberapa efektif ?
  2. Seberaa heuristic model tersebut model tersebut? Apakah ia membantu menemukan hubungan-hubungan baru, fakta, atau mode?
  3. Seberapa penting prediksi yang dibuat dari model tersebut bagi bidang penelitian? Seberapa strategis prediksi itu pada tahap perkembangan bidang tersebut ?
  4. Seberapa akurat pengukuran yang dapat dikembangkan dengan model tersebut?

Deutsch juga menambahkan kriteria berikut untuk menilai model:

  1. Seberapa orisinal model tersebut? Seberapa banyak pandangan baru yang ditawarkannya?
  2. Bagaimana kesederhanaan dan kehematan (parsimoni) model tersebut? (ini menyangkut efisiensi model atau pencapaiannya akan tujuan yang dimaksudkan. Suatu contoh terbaik adalah teori Einstein bahwa energy dan materi dapat dipertukarkan, yang dinyatakan sebagai E= mc ²
  3. Seberapa nyata model tersebut? Seberapa Jauh kita bergantung padanya sebagai representasi realitas fisik?

TIPOLOGI MODEL

Gerhard J. Hanneman dan William J. McEwen,[4] menggambarkan taksonomi dalam sebuah grafik yang melukiskan derajat  abstraksi yang berlainan.

MODEL-MODEL KOMUNIKASI; SUATU PERKENALAN

MODEL ARISTOTELES

Jenis komunikasi klasik yang sering juga disebut model retoris. Terdapat tiga unsure dasar proses komunikasi model ini, yaitu pembicara(speaker), pesan (message) dan pendengar (listener).

MODEL LASSWEL

Tiga fungsi yang komunikasi dalam model ini adalah

  1. Pengawasan lingkungan yang mengingatkan anggota-anggota.
  2. Korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan.
  3. Transmisi warisan social dari suatu generasi ke generasi lainya.

MODEL SHANNON DAN WAEVER

Model yang sering disebut model matematis.

MODEL SCHRAMM

Memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman dalam sumber dan sasaran-lah yang sebenarnya dikomunikasikan.

MODEL NEWCOMB

Model yang memandang komunikasi dari psikologi-sosial.

MODEL WESTLEY DAN MaCLeaN

Suatu model yang mencakup komunikasi antarpribadi dan komunikasi masa, serta memasukkan umpan balik sebagai bagian integral dari proses komunikasi.

MODEL GERBNER

Merupakan perluasan dari model lasswell.[5] Model ini terdiri dari model verbal dan model diagrammatic. Model verbal Gerbner adalah sebagai berikut:

  1. Seseorang (sumber, komunikator)
  2. Mempersepsi suatu kejadian
  3. Dan bereaksi
  4. Dalam suatu situasi
  5. Melalui suatu alat (saluran;media; rekayasa fisik; fasilitas administrative dan kelembagaan untuk distribusi dan control)
  6. Untuk menyediakan materi
  7. Dalam suatu bentuk
  8. Dan konteks
  9. Yang mengandung isi
  10. Yang mempunyai konsekuensi

MODEL BERLO

Model ini dikenal denagn model SMCR (source Message Chanel dan Receiver).

MODEL DeFleur

Model komunikasi yang menggambarkan massa ketimbang komunikasi antarpribadi.

MODEL TUBBS

Model komunikasi yang menggambarkan komunikasi yang paling mendasar, yaitu komunikasi dua orang (diadik). Model ini sesuai dengankonsep komunikasi sebagai transaksi, yang mengasumsikan kedua peserta komunikasi sebagai pengirim dan sekaligus juga penerima pesan.

MODEL GUDYKUNTS DAN KIM

Model yang merupakan model komunikasi antarbudaya, yakni komunikasi antara orang-orang yang berasal dari budaya yang berlainan.

MODEL INTERAKSIONAL

Model yang berlawanan dengan model stimulus-respon (R-S). Model ini merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh ilmuwan social yang menggunakan perspektif interaksi simbolik.

MODEL S-R

Model yang paling dasar. Model ini dipengaruhiboleh disiplin psikologi(khususnya yang beraliran behavioristik). Model ini menggambarkan hubungan stimulus-respons.


[1]Cassata dan Asante, hlm. 72.

[2] Gordon wiseman dan Larry Barker. Speech-Interpersonal Communication. San Fransisco: Chandler, 1967, hlm. 13-14.

[3] Lihat severin dan Tankard, Jr hlm. 37.

[4] Lihat Cassanta dan Asante, hlm.64

[5] Lihat Cassata dan Asante, hlm.67-69; Severin dan Tankard, Jr., hlm, 50-52

Komunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan atau pun pendapat dari setiap partisipan komunikasi yang terlibat didalamnya guna mencapai kesamaan makna. Tindak komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam berbagai konteks.

Tindak komunikasi dalam suatu organisasi berkaitan dengan pemahaman mengenai peristiwa komunikasi yang terjadi didalamnya, seperti apakah instruksi pimpinan sudah dilaksanakan dengan benar oleh karyawan atau pun bagaimana karyawan/bawahan mencoba menyampaikan keluhan kepada atasan, memungkinkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan dapat tercapai sesuai dengan hasil yang diharapkan. Ini hanya satu contoh sederhana untuk memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan aspek penting dalam suatu organisasi, baik organisasi yang mencari keuntungan ekonomi maupun organisasi yang bersifat sosial kemasyarakatan.

TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI

Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

Organisasi dan komunikasi Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, yang secara harafiah berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung. Di antara para ahli ada yang menyebut paduan itu sistem, ada juga yang menamakannya sarana. Everet M.Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas. Robert Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang.

Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya. Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi, dan lingkup organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan. – Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:

Fungsi informatif

Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan sebagainya.

Fungsi regulatif

Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu:

a. Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Juga memberi perintah atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya.

b. Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.

Fungsi persuasif

Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

Fungsi integratif

Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu:

a. Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi.

b. Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.

– Griffin (2003) dalam A First Look at Communication Theory, membahas komunikasi organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran pada daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori management klasikal adalah sebagai berikut:

a. kesatuan komando- suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan

b. rantai skalar- garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari atas sampai ke bawah untuk organisasi; rantai ini, yang diakibatkan oleh prinsip kesatuan komando, harus digunakan sebagai suatu saluran untuk pengambilan keputusan dan komunikasi.

c. divisi pekerjaan- manegement perlu arahan untuk mencapai suatu derajat tingkat spesialisasi yang dirancang untuk mencapai sasaran organisasi dengan suatu cara efisien.

d. tanggung jawab dan otoritas- perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk memberi order dan ke ketaatan seksama; suatu ketepatan keseimbangan antara tanggung jawab dan otoritas harus dicapai.

e. disiplin- ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang keluar seturut kebiasaan dan aturan disetujui.

f. mengebawahkan kepentingan individu dari kepentingan umum- melalui contoh peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus.

Selanjutnya, Griffin menyadur tiga pendekatan untuk membahas komunikasi organisasi. Ketiga pendekatan itu adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan sistem

Karl Weick (pelopor pendekatan sistem informasi) menganggap struktur hirarkhi, garis rantai komando komunikasi, prosedur operasi standar merupakan mungsuh dari inovasi. Ia melihat organisasi sebagai kehidupan organis yang harus terus menerus beradaptasi kepada suatu perubahan lingkungan dalam orde untuk mempertahankan hidup. Pengorganisasian merupakan proses memahami informasi yang samar-samar melalui pembuatan, pemilihan, dan penyimpanan informasi. Weick meyakini organisasi akan bertahan dan tumbuh subur hanya ketika anggota-anggotanya mengikutsertakan banyak kebebasan (free-flowing) dan komunikasi interaktif. Untuk itu, ketika dihadapkan pada situasi yang mengacaukan, manajer harus bertumpu pada komunikasi dari pada aturan-aturan.

Teori Weick tentang pengorganisasian mempunyai arti penting dalam bidang komunikasi karena ia menggunakan komunikasi sebagai basis pengorganisasian manusia dan memberikan dasar logika untuk memahami bagaimana orang berorganisasi. Menurutnya, kegiatan-kegiatan pengorganisasian memenuhi fungsi pengurangan ketidakpastian dari informasi yang diterima dari lingkungan atau wilayah sekeliling. Ia menggunakan istilah ketidakjelasan untuk mengatakan ketidakpastian, atau keruwetan, kerancuan, dan kurangnya predictability.

Semua informasi dari lingkungan sedikit banyak sifatnya tidak jelas, dan aktivitas-aktivitas pengorganisasian dirancang untuk mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.

Weick memandang pengorganisasian sebagai proses evolusioner yang bersandar pada sebuah rangkaian tiga proses:

1. penentuan (enachment)

2. seleksi (selection)

3. penyimpanan (retention)

– Penentuan adalah pendefinisian situasi, atau mengumpulkan informasi yang tidak jelas dari luar. Ini merupakan perhatian pada rangsangan dan pengakuan bahwa ada ketidakjelasan.

– Seleksi, proses ini memungkinkan kelompok untuk menerima aspek-aspek tertentu dan menolak aspek-aspek lainnya dari informasi. Ini mempersempit bidang, dengan menghilangkan alternatif-alternatif yang tidak ingin dihadapi oleh organisasi. Proses ini akan menghilangkan lebih banyak ketidakjelasan dari informasi awal.

– Penyimpanan yaitu proses menyimpan aspek-aspek tertentu yang akan digunakan pada masa mendatang. Informasi yang dipertahankan diintegrasikan ke dalam kumpulan informasi yang sudah ada yang menjadi dasar bagi beroperasinya organisasinya.

2. Pendekatan budaya

Asumsi interaksi simbolik mengatakan bahwa manusia bertindak tentang sesuatu berdasarkan pada pemaknaan yang mereka miliki tentang sesuatu itu. Mendapat dorongan besar dari antropolog Clifford Geertz, ahli teori dan ethnografi, peneliti budaya yang melihat makna bersama yang unik adalah ditentukan organisasi.

Organisasi dipandang sebagai budaya. Suatu organisasi merupakan sebuah cara hidup (way of live) bagi para anggotanya, membentuk sebuah realita bersama yang membedakannya dari budaya-budaya lainnya. Pacanowsky dan para teoris interpretatif lainnya menganggap bahwa budaya bukan sesuatu yang dipunyai oleh sebuah organisasi, tetapi budaya adalah sesuatu suatu organisasi.

Budaya organisasi dihasilkan melalui interaksi dari anggota-anggotanya. Tindakan-tindakan yang berorientasi tugas tidak hanya mencapai sasaran-sasaran jangka pendek tetapi juga menciptakan atau memperkuat cara-cara yang lain selain perilaku tugas ”resmi” dari para karyawan, karena aktivitas-aktivitas sehari-hari yang paling membumi juga memberi kontribusi bagi budaya tersebut.

Pendekatan ini mengkaji cara individu-individu menggunakan cerita-cerita, ritual, simbol-simbol, dan tipe-tipe aktivitas lainnya untuk memproduksi dan mereproduksi seperangkat pemahaman.

3. Pendekatan kritik

Stan Deetz, salah seorang penganut pendekatan ini, menganggap bahwa kepentingan-kepentingan perusahaan sudah mendominasi hampir semua aspek lainnya dalam masyarakat, dan kehidupan kita banyak ditentukan oleh keputusan-keputusan yang dibuat atas kepentingan pengaturan organisasi-organisasi perusahaan, atau manajerialisme.

Bahasa adalah medium utama dimana realitas sosial diproduksi dan direproduksi. Manajer dapat menciptakan kesehatan organisasi dan nilai-nilai demokrasi dengan mengkoordinasikan partisipasi stakeholder dalam keputusan-keputusan korporat.

Rangkuman ini mungkin membuat anda mempercayai bahwa organisasi bergerak dari proses pengorganisasian ke proses lain dengan cara yang sudah tertentu: penentuan; seleksi; penyimpanan; dan pemilihan. Bukan begitu halnya. Sub-subkelompok individual dalam organisasi terus menerus melakukan kegiatan di dalam proses-proses ini untuk menemukan aspek-aspek lainnya dari lingkungan. Meskipun segmen-segmen tertentu dari organisasi mungkin mengkhususkan pada satu atau lebih dari proses-proses organisasi, hampir semua orang terlibat dalam setiap bagian setiap saat. Pendek kata di dalam organisasi terdapat siklus perilaku. Siklus perilaku adalah kumpulan-kumpulan perilaku yang saling bersambungan yang memungkinkan kelompok untuk mencapai pemahaman tentang pengertian-pengertian apa yang harus dimasukkan dan apa yang ditolak. Di dalam siklus perilaku, tindakan-tindakan anggota dikendalikan oleh aturan-aturan berkumpul yang memandu pilihan-pilihan rutinitas yang digunakan untuk menyelesaikan proses yang tengah dilaksanakan (penentuan, seleksi, atau penyimpanan)

DAFTAR PUSTAKA Disadur dari

http://www.KOMUNIKASI.blogspot.com dengan tema TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI

http://www.mediakita.com denagn tema komunikasi dalam organisasi http://www.dagdigdug.com dengan tema Komunikasi Dalam Organisasi (KDO) Em Griffin, 2003, A First Look at Communication Theory, McGrraw-Hill Companies Sendjaja, 1994, Teori-Teori Komunikasi, Universitas Terbuka

FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

Filsafat adalah ibu dari segala ilmu, darinyalah seluruh pengetahuan yang disebut epistemologi dan wilayah nilai yang dinamai aksiologi. Hakikatnya, filsafat ilmu berada pada wilayah pengetahuan (epistemologi), yakni cabang yang mengkaji teori pengetahuan, karena itu disebut teori tentang teori. Saat berpikir filsafat guna mengkaji teori tentang teori, ada tiga wilayah filsafat yang digunakan untuk menganalisis. Jadi, walaupun ia epistemologi saat mengkaji filsafat ilmu komunikasi , maka masalah ontologi (wilayah ada), epistemologi (wilayah pengetahuan), dan aksiologi (wilayah nilai) kembali dipertanyakan.

Untuk itu filsafat komunikasi dari segi ontologi mempertanyakan apakah objek kajian ilmu komunikasi?. Dari segi epistemologi , bagaimana cara mendapatkan dan membangun ilmu tersebut?. Dari segi aksiologi, bagaimana pula penggunaannya? Pengetahuan biasa, pengetahuan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa mengetahui apa sebabnya hingga terjadi demikian dan mengapa demikian. Dasarnya adalah pengalaman. ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat ilmu. Apabila pengetahuan memenuhi syarat ilmu yang sistematis, objektif, metodis, dan universal maka ia layak disebut sebagai pengetahuan ilmu atau ilmu pengetahuan atau ilmu saja. Dalam ilmu pengetahuan, manusia tidak terlalu memikirkan kegunaannya, semata-mata hanya ingin tahu. Karenanya bagaimana ilmu itu digunakan (aksiologi) menjadi penting. Ontologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat ilmu dan objeknya. Dalam konteks ilmu komunikasi, terdapat tiga paradigma dasar yang menentukan prespektif atau cara pandang terhadap komunikasi yaitu dari segi epistimologi, aksiologi dan ontologi Berdasarkan ke tiga paradigma tersebut, komunikasi didefinisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia. Artinya, objek ilmu komunikasi adalah tentang penyampaian pesan antar manusia yang disampaikan dengan usaha secara sengaja dilatari motif komunikasi, dikupas terlebih dahulu tentang hakikat manusia terutama faktok rohani yang dimilikinya. Manusia tidak bisa tidak berkomunikasi.

Namun tidak semua tindakan manusia adalah tindakan komunikasi. Oleh karena itu tindak komunikasi dalam penyampaian pesan ditandai dengan adanya motif komunikasi. Motif komunikasi sangat menentukan apakah sesuatu layak disebut pesan atau tidak, apakah seseorang berlaku sebagai komunikator medium atau komunikan yang bergeser menjadi komunikator. Aksiologis mempertanyakan nilai bagaimana dan untuk tujuan apa ilmu komunikasi digunakan. Dalam cabang ini hubungan manusia dengan Tuhannya dan dengan sesamanya merupakan salah satu aksiologi dari ilmu ini Karenanya, terkait penilai etis atau moral. Hanya tindakan manusia yang dilakukan dengan sengaja yang dapat dikenai penilaian etis. Akar tindakan manusia adalah falsafah hidup. Sama halnya dengan ilmuwan komunikasi, falsafah hidupnya akan menentukannya dalam ;

(a). Memilih objek penelitian

(b). Cara melakukan penelitian

(c).Menggunakan produk hasil penelitiannya

Ilmu komunikasi sebagai ilmu sosial yang berada pada rumpun empiris dapat dikembangkan berdasarkan paradigma positivist dan anti positivist. Ilmu komunikasi yang berlatar positivist cenderung objektif. Sedangkan ilmu komunikasi yang berlatar anti positivistisme bersifat intersubjektif. Berdasarkan jenis data dan pengolahannya, ilmu komunikasi memiliki dua jenis, yaitu kuantitatif yang labih berlatar positivist dan kualitatif lebih berlatar antipositivist yang intersubjektif. Ilmu komunikasi menggunakan empat strategi dalam pengumpulan data penelitian, yaitu :

1. Eksperimen, digunakan pada penelitian kuantitatif.

2. Survei, digunakan pada penelitian kuantitatif dan kualitatif.

3. Analisis teks, digunakan pada penelitian kuantitatif dan kualitatif.

4. Partisipasi-observasi, digunakan pada penelitian kualitatif.

Paradigma dalam ilmu komunikasi sebagaimana ilmu sosial lainnya menjadi penting mengingat sifat objek yang abstrak, tiga paradigma yang ada dalam memandang ilmu komunikasi bisa sama benarnya, tapi juga bisa sama salahnya. Namun betapapun spekulatifnya, sifat tegas tetap diperlukan. Jika ada koreksi terhadap tulisan ini, sangat kami harapkan.

Paradigma Ilmu Sosial

Setiap ilmu mempunyai filsafatnya. Sebagaimana kita ketahui adanya filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat teknik dan demikian pula denagan filsafat ilmu social. Sebab filsafat merupakan suatu landasan pemikiran dari ilmu-ilmu yang bersangkutan, titik tolak bagaimana ilmu itu bermaksud mencapai tujuannya, yaitu kebenaran.

Selain itu, filsafat adalah syarat dari legalitas suatu ilmu pengetahuan. suatu ilmu pengetahuan tidak dapat dinyatakan sebagai disiplin ilmu bila didalamnya tidak ditemukan landasan ontologi, epistimologi, dan aksiologinya.

Dalam makalah ini kami menyajikan sedikit ulasan tentang filsafat ilmu social, yang dibahas satu per satu tentang sifat dasar dari realiatas yang terdalam (ontologi), hakikat (epistimologi), dan nilai yang mendasari asumsi-asumsi (aksiologi) ilmu social.

Ontologi Ilmu Sosial

Ontolgi secara etimlogis berasal dari bahasa yunani onto yang berarti sesuatu yang sungguh-sungguh ada, kenyataan yang sesungguhnya, dan logos yang berarti studi tentang, teori yang dibicarakan (Angeles,1981). Secara terminologis, ontologi diartikan dengan meta fisika umum. yaitu cabang filsafat yang mempelajari tentang sifat dasar dari kenyataan yang terdalam membahas asas-asas rasional dari kenyataan (Kattsoff,1986). Degan kata lain, permasalahan ontologi adalah menggali sesuatu dari yang nampak.

Pada dasarnya, ilmu merupakan hasil dari penjajahan dalam pengalaman manusia. Sehinhgga, ilmu bersifat terbatas pada pengalaman manusia itu sendiri. Ilmu tidak dapat memaparkan persoalan yang tidak berwujud.

Dalam persoalan ontologi, sebuah objek dapat dipaparkan melalui lima butir pertanyaan. Pertama, objek tersebut bersifat satu atau banyak. Kedua, bersifat transenden atau imanen. Ketiga, permanen atau baharu (berubah-ubah). Keempat, jasmani atau rohani. Kelima, objek tersebut bernilai atau tidak.

Dalam struktur realitas, ilmu sosial berada dalam level ke empat. yakni merupakan ilmu yang membahas dalam ranah relasi atas manusia. Dari situ dapat diketahui bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang ersifat banyak (plural). Sebab, ilmu sosial berjalan dalam pembahasan relasi atas manusia, dan pada dasarnya, manusia bersifat kompleks, berbeda satu sama lain. Setiap pribadi memiliki modelnya masing-masing, oleh karena itu, ilmu sosial pun bersifat banyak atau plural.

Setelah mengetahui objek dari ilmu social, dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu s0sial merupakan ilmu yang berada dalam struktur-struktur, dan mengambil bagian yang menentukan proses alam (imanen). Ilmu sosia bukan lah sessuatu yang berada jauh di atas hal-hal yang terdapat dalam pengalaman (transenden), seperti halnya Tuhan.

Berbeda dengan ilmu alam, ilmu sosial cendrung bersifat berubah-ubah, ilmu sosial memandang kebenaran tidak berifat mutlak, yang ada hanya mendekati kebenaran, Ia bergantung pada keadaan objek yang dikaji, dalam ilmu sosial saat ini, belum tentu sama dengan beberapa abad lalu atau yang akan datang. Ilmu sosial tidak dapat diprediksi seperti halnya ilmu alam karena objek-objek dari ilmu sosial berbeda dalam bentuk, struktur serta sifatnya.

Dalam buku filsafat komunikasi tulisan Dr. phil. Astrid S. Susanto, 1976. disebutkan, bahwa ilmu sosial bergerak dalam bidang mencari kebenaran ataupun pembentukan pikiran-pikiran yang dianggap benar dalam masyarakat. Sehingga dapat dilihat bahwa ilmu sosial berada dalam ruang lingkup rohani atau tidak nampak.

Dalam pertanyaan terakhir dalam ontologi yang memprtanyakan masalah bernilai atau tidaknya sebuah objek, tentunya ilmu sosial sangat bernilai. Hal itu dapat diketahui dengan berkembangbya ilmu sosial saat ini. Selain itu, ilmu sosial selalu menjadi kajian dan perdebatan hangat dalam forum-forum diskusi. Mengingat kembali objeknya bersifat unik dan sangat kompleks.

  1. Epistimologi Ilmu Sosial

Epistimologi berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu atau teori. Artinya, epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang hakikat sebuah pengetahuan. Dapat juga dikatakan bahwa epistimologi bekerja dalam ranah metodologis sebuah ilmu pengetahuan.

Ada dua pandangan tentang ilmu social khususnya yaitu.

1.Ilmu social bersifat universal. Artinya, ilmu social tidak tergantung pada apa, siapa, kapan dan dimana dikembangkan.

2.Klaim universalitas metode ilmu social itu hanyalah klaim naïf. Pandangan ini beranggapan bahwa ilmu social berkembang seiring perkembangan masyarakat. Artinya ilmu social tumbuh dan berkembang untuk menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Universalitas tidak harus mengorbankan unsure keunikan suatu budaya.

Tapi pada dasarnya, Dalam kajian epistimologi, terdapat tiga hal yang menjadi acuan, yakni tentang asal muasal sebuah pengetahuan tersebut atau sumber pengetahuan, metode yang digunakan dalam menemukan pengetahuan, dan menguji validitas atau menguji pengetahuan tersebut.

Mengenai sumber suatu pengetahuan, ada dua sumber dasar yang melahirkan adanya sebuah ilmu pengetahuan, yaitu sumber pengetahuan yang berasal dari fisik (empiris), dan sumber pengetahuan yang berasal dari pemikiran (rasional).

Seperti yang dipaparkan oleh bapak sosiologi, Aguste comte, bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala yang muncul dalam masyarakat serta apa dampaknya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu sosial bersumber dari sebuah pemikiran atau rasional. Sebab pada dasarnya yang dipelajari adalah inti dari kejadian atau gejala yang terjadi. Gejala-gejala yang ada dalam masyarakat merupakan sebuah dampak atau efek dari sesuatu, dan ilmu sosial mempelajari tentang sesuatu itu.

Secara metodis, ilmu sosial menggunakan metode induktif, dan metode deduktif. Ilmu sosial menggunakan kedua-duanya dalam menemukan sebuah ilmu pengetahuan.

Metode induktif yakni metode yang dilakukan dengan menarik suatu kesimpulan umum berdasarkan penemuan-penemuan khusus. Sedangkan metode deduktif dilakukan dengan menarik sesuatu yang khusus dari yang umum.

Dalam mempelajari tentang gejala-gejala sosial, biasanya dilakukan dengan menggunakan metode induktif, sebab metode induktif lebih mengacu pada sesuatu yang nampak (empiris), dan sebuah gejala merupakan hal yang empirik. Sedangkan metode deduiktif bersifat rasio, dan biasanya digunakan untuk meguak apa yang ada di balik gejala tersebut.

Untuk masalah faliditas ilmu sosial, tentunya sudah terbukti dengan keberadaan ilmu sosial sendiri saat ini. Dimana dalam ilmu ssia telah menunjukkn koherensi dan korespondensi. Yakni antara pernyataan yang dikeluarkan, singkron dengan realitas yang ada.

Aksiologi Ilmu Sosial

Aksiologi secara etimologis berasal dari kata axios yang berarti nilai dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi aksiologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori yang mempelajari hakikat nilai. Landasan aksiologis yang dimaksud adalah pandangan tentang nilai yang mendasari asumsi asumsi ilmu social.

Polemic yang berkepanjangan yang menandai perkembangan ilmu-ilmu social adalah berkaitan dengan klaim bebas dan tidak bebas nilai dalam ilmu- ilmu social. Bebas nilai artinya ilmu social harus mengacu pada ilmu-ilmu alam yang berusaha menangkap hukum- hukum alam yang objektif yang tidak tercemari oleh kepentingan –kepentingan manusiawi. Ilmu social hendaknya mencari hukum-hukum sebagaimana dalam ilmu alam yang dapat diterapkan oleh siapa saja, dimana saja,dan kapan saja secara objektif. Kemudian pandangan bahwa ilmu social tidak bebas nilai atau tidak dapat dilepaskan dari nilai karena ilmu social tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, yang mau tidak mau terkait dengan nilai.

Problem tentang netralitas nilai dalam perspektif paradigma ilmu social adalah bahwa ilmu social tidak dapt dilepaskan dari nilai. Pertimbangannya adalah bahwa ilmu social pertama tumbuh dan berkembang dalam suatu kerangka budaya yang lekat dengan pertimbangan nilai. Argument ini diperkuat dengan kenyataan bahwa fenomena social berbeda dengan fenomena fisik yang bersifat mekanik.

Pada dasarnya, etos ilmu social adalah mencari kebenaran objektif atau mencari realism, yaitu suatu istilah yang salah satu artinya menunjuk pada suatu pandangan objektif tentang realitas (Gunnar Myrdal, 1981).

Objektivitas ilmu social ini adalah memandang kenyataan sebagaimana adanya (das sein) dengan menggunakan metode serta toeri social yang berdasarkan realitas objektif yang dijadikan lapangan penyelidikan. Lebih khusus lagi ilmu social dapat membebaskan diri dari warisan peninggalan yang kuat dari penulisan penulisan sebelumnya dalam bidang ilmiah yang digarap kadang kala mengandug orientasi normative dan teologis serta berlandaskan filsafat moral metafisika tentang hukum alam serta utilitarianisme yang menjadi sumber terbentuknya teori social. Selanjutnya pengaruh- pengaruh seluruh lingkungan kebudayaan, sosisal, ekonomi, politik dari masyarakat tempat ilmu social itu ditumbuh-kembangkan (Gunnar Myrdal, 1981), dan terakhir, pengaruh yang bersumber dari kepribadian sendiri, seperti yang dibentuk oleh tradisi- tradisi dan lingkungannya.

Pandangan yang benar adalah bahwa ilmu social harus membatasi dari muatan emosional, dengan lebih menekankan muatan rasional dalam memutuskan suatu masalh. Tujuan ilmu social adalah untuk menjelaskan , dan mengontrol fenomena social , namun semua itu diletakkan pada tujuan yang mulia, yaitu untuk kebaikan umat manusia. Nilai nilai social yang berkembang berdasarkan atas beberapa prinsip, diantaranya persamaan dan kebersamaan, keadilan social serta keterbukaan dan musyawarah.

Kesimpulan

Dari pemaparan singkat di atas, dapat diketahui tentang wujud atau sifat dasar , hakikat, dan hakikat nilai yang terdapat dalam ilmu social. Dan secara garis besarnya, dapat difahami tentang eksistensi ilmu social.

Sebagaimana tertera di atas, bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang berkebang berdasarkan rasio. Sedangkan hal yang bersifat empirik adalah merupakan sebuah dampak atau efek dari sesuatu, dan ilmu social berada dalam pembahasan sesuatu itu.

Secara metodologis, dalam ilmu social penggunaan metode digunakan secara kompleks. Hal itu dekarenakan objek ilmu social yang bersifat berebeda secara fisik, struktur, serta sifatnya.

Dalam tataran nilai, pada dasarnya ilmu social sama dengan ilmu yang lain. Yakni pengabdian kepada masyarakat. Perbedaannya hanya pada bidang geraknya, ilmu social bergerak dalam bidang mencari kebenaran a priori ataupun pembentukan pikiran-pikiran yang dianggap benar di masyarakat.

Daftar pustaka

Santoso, Heri dan Listiyono Santoso. 2003. filsafat ilmu sosial. Yogyakarata : gama media.

Ricoeur, Paul. 2006. Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta : Kreasi wacana.

Susanto, Astrid S. 1976. filsafat komunikasi. Bandung : binacipta.