Kalau orang mengenal Warok Ponorogo, sebenarnya ia sudah mulai mengenal sebagian ciri khas daerah. Ia disegani dan dihormati. Gambaran wantah dari seluruh jiwa Warok diwujudkan dalam bentuk yang berperawakan tinggi besar, berkumis, dan berjanggut panjang. Pada pipi dan dada tumbuh bulu-bulu hitam. Ia memakai pakaian yang serba hitam. Menurut kepercayaan setempat, hitam mengandung makna keteguhan. Sedangkan lambang kesucian budi, ilmu, dan tingkah berupa ikat pinggang–koloran, usus-usus (Jawa)–yang berwarna putih, panjang, dengan ujungnya terurai.
Dari sini akhirnya, didapat pengertian bahwa manusia itu perlu sekali dikuatkan dengan kesucian budi, ilmu, dan tingkah laku.
Pertunjukan Reog biasanya terdiri dari beberapa adegan. Adegan pertama adalah tarian pembuka, yang menampilkan 6-8 lelaki dengan pakaian hitam dan muka (atau topeng) yang dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang marah. Setelah para lelaki pemberani tersebut, berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 perempuan atau bisa juga lelaki yang didandani mirip perempuan yang menaiki kuda kepang (kuda-kudaan dari anyaman bambu).

Beberapa macam jenis atribut pakaian yang dikenakan oleh seorang Warok Ponorogo

Busana adat Jawa biasa disebut dengan busana kejawen mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa dan khususnya oleh Warok sendiri. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya.
Pakaian adat yang dikenakan pada bagian kepala adalah, seperti iket, udheng :

dibagian tubuh ada rasukan (baju): jarik sabuk, epek, timang

dibagian belakang tubuh yakni keris dan dikenakan dibagian bawah atau bagian kaki yaitu canela.

Penutup Kepala
a. Iket
Untuk bagian kepala biasanya orang Jawa kuna (tradisional) mengenakan “iket” yaitu ikat kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala. Cara mengenakan iket harus kenceng (kuat) supaya ikatan tidak mudah terlepas. Makna iket dimaksudkan manusia seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng, tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.
b. Udeng
Hampir sama penggunaannya yaitu udheng, juga dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. Jika sudah dikenakan di atas kepala, iket dan udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. Udheng dari kata kerja Mudheng atau mengerti dengan jelas, faham. Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh, mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. Dengan kata lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional.
Penadon (Pakaian Khas Warok)
Identitas Warok biasanya hanya dikenal pada pakaiannya yang serba hitam saja. Pakaian ini adalah pakaian asli daerah Ponorogo. Seorang disebut Warok jika ia sudah besar sekali wibawanya dan besar sekali kedudukannya dalam masyarakat.

Sandal atau Canela (bagaian kaki)
Canela mempunyai arti “Canthelna jroning nala” (peganglah kuat dalam hatimu) canela sama artinya Cripu, Selop, atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki, artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di kaki-NYA. Dalam hati hanyalah sumeleh (pasrah) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tapi kebanyakan hanya warok muda yang memakai sandal atau canela.
Curiga Lan Warangka
Curiga atau keris berujud wilahan, bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya Yatu Allah Yang Maha Kuasa, manunggaling kawula Gusti. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh, keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan.
Warok-warok tua merupakan simpul penting untuk menelusuri identitas budaya masyarakat Ponorogo. Kehadiran mereka mengukuhkan kearifan lokal—nilai, estetika, dan ilmu pengetahuan masa lalu—yang semakin terdesak kapitalisasi dan penyeragaman semua aspek kehidupan.
Namun, warok-warok sepuh itu pada waktunya akan meninggal. Jika generasi berikutnya gagal menangkap dan melestarikan spirit warok, bisa jadi tradisi ini tinggal sejarah. Banyak orang Ponorogo yang memakai pakaian warok, tetapi semakin sulit menemukan warok.
Disadur http://macanponorogo.blogspot.com/

http://dian33.wordpress.com