FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI

Filsafat adalah ibu dari segala ilmu, darinyalah seluruh pengetahuan yang disebut epistemologi dan wilayah nilai yang dinamai aksiologi. Hakikatnya, filsafat ilmu berada pada wilayah pengetahuan (epistemologi), yakni cabang yang mengkaji teori pengetahuan, karena itu disebut teori tentang teori. Saat berpikir filsafat guna mengkaji teori tentang teori, ada tiga wilayah filsafat yang digunakan untuk menganalisis. Jadi, walaupun ia epistemologi saat mengkaji filsafat ilmu komunikasi , maka masalah ontologi (wilayah ada), epistemologi (wilayah pengetahuan), dan aksiologi (wilayah nilai) kembali dipertanyakan.

Untuk itu filsafat komunikasi dari segi ontologi mempertanyakan apakah objek kajian ilmu komunikasi?. Dari segi epistemologi , bagaimana cara mendapatkan dan membangun ilmu tersebut?. Dari segi aksiologi, bagaimana pula penggunaannya? Pengetahuan biasa, pengetahuan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa mengetahui apa sebabnya hingga terjadi demikian dan mengapa demikian. Dasarnya adalah pengalaman. ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat ilmu. Apabila pengetahuan memenuhi syarat ilmu yang sistematis, objektif, metodis, dan universal maka ia layak disebut sebagai pengetahuan ilmu atau ilmu pengetahuan atau ilmu saja. Dalam ilmu pengetahuan, manusia tidak terlalu memikirkan kegunaannya, semata-mata hanya ingin tahu. Karenanya bagaimana ilmu itu digunakan (aksiologi) menjadi penting. Ontologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat ilmu dan objeknya. Dalam konteks ilmu komunikasi, terdapat tiga paradigma dasar yang menentukan prespektif atau cara pandang terhadap komunikasi yaitu dari segi epistimologi, aksiologi dan ontologi Berdasarkan ke tiga paradigma tersebut, komunikasi didefinisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia. Artinya, objek ilmu komunikasi adalah tentang penyampaian pesan antar manusia yang disampaikan dengan usaha secara sengaja dilatari motif komunikasi, dikupas terlebih dahulu tentang hakikat manusia terutama faktok rohani yang dimilikinya. Manusia tidak bisa tidak berkomunikasi.

Namun tidak semua tindakan manusia adalah tindakan komunikasi. Oleh karena itu tindak komunikasi dalam penyampaian pesan ditandai dengan adanya motif komunikasi. Motif komunikasi sangat menentukan apakah sesuatu layak disebut pesan atau tidak, apakah seseorang berlaku sebagai komunikator medium atau komunikan yang bergeser menjadi komunikator. Aksiologis mempertanyakan nilai bagaimana dan untuk tujuan apa ilmu komunikasi digunakan. Dalam cabang ini hubungan manusia dengan Tuhannya dan dengan sesamanya merupakan salah satu aksiologi dari ilmu ini Karenanya, terkait penilai etis atau moral. Hanya tindakan manusia yang dilakukan dengan sengaja yang dapat dikenai penilaian etis. Akar tindakan manusia adalah falsafah hidup. Sama halnya dengan ilmuwan komunikasi, falsafah hidupnya akan menentukannya dalam ;

(a). Memilih objek penelitian

(b). Cara melakukan penelitian

(c).Menggunakan produk hasil penelitiannya

Ilmu komunikasi sebagai ilmu sosial yang berada pada rumpun empiris dapat dikembangkan berdasarkan paradigma positivist dan anti positivist. Ilmu komunikasi yang berlatar positivist cenderung objektif. Sedangkan ilmu komunikasi yang berlatar anti positivistisme bersifat intersubjektif. Berdasarkan jenis data dan pengolahannya, ilmu komunikasi memiliki dua jenis, yaitu kuantitatif yang labih berlatar positivist dan kualitatif lebih berlatar antipositivist yang intersubjektif. Ilmu komunikasi menggunakan empat strategi dalam pengumpulan data penelitian, yaitu :

1. Eksperimen, digunakan pada penelitian kuantitatif.

2. Survei, digunakan pada penelitian kuantitatif dan kualitatif.

3. Analisis teks, digunakan pada penelitian kuantitatif dan kualitatif.

4. Partisipasi-observasi, digunakan pada penelitian kualitatif.

Paradigma dalam ilmu komunikasi sebagaimana ilmu sosial lainnya menjadi penting mengingat sifat objek yang abstrak, tiga paradigma yang ada dalam memandang ilmu komunikasi bisa sama benarnya, tapi juga bisa sama salahnya. Namun betapapun spekulatifnya, sifat tegas tetap diperlukan. Jika ada koreksi terhadap tulisan ini, sangat kami harapkan.