Paradigma Ilmu Sosial

Setiap ilmu mempunyai filsafatnya. Sebagaimana kita ketahui adanya filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat teknik dan demikian pula denagan filsafat ilmu social. Sebab filsafat merupakan suatu landasan pemikiran dari ilmu-ilmu yang bersangkutan, titik tolak bagaimana ilmu itu bermaksud mencapai tujuannya, yaitu kebenaran.

Selain itu, filsafat adalah syarat dari legalitas suatu ilmu pengetahuan. suatu ilmu pengetahuan tidak dapat dinyatakan sebagai disiplin ilmu bila didalamnya tidak ditemukan landasan ontologi, epistimologi, dan aksiologinya.

Dalam makalah ini kami menyajikan sedikit ulasan tentang filsafat ilmu social, yang dibahas satu per satu tentang sifat dasar dari realiatas yang terdalam (ontologi), hakikat (epistimologi), dan nilai yang mendasari asumsi-asumsi (aksiologi) ilmu social.

Ontologi Ilmu Sosial

Ontolgi secara etimlogis berasal dari bahasa yunani onto yang berarti sesuatu yang sungguh-sungguh ada, kenyataan yang sesungguhnya, dan logos yang berarti studi tentang, teori yang dibicarakan (Angeles,1981). Secara terminologis, ontologi diartikan dengan meta fisika umum. yaitu cabang filsafat yang mempelajari tentang sifat dasar dari kenyataan yang terdalam membahas asas-asas rasional dari kenyataan (Kattsoff,1986). Degan kata lain, permasalahan ontologi adalah menggali sesuatu dari yang nampak.

Pada dasarnya, ilmu merupakan hasil dari penjajahan dalam pengalaman manusia. Sehinhgga, ilmu bersifat terbatas pada pengalaman manusia itu sendiri. Ilmu tidak dapat memaparkan persoalan yang tidak berwujud.

Dalam persoalan ontologi, sebuah objek dapat dipaparkan melalui lima butir pertanyaan. Pertama, objek tersebut bersifat satu atau banyak. Kedua, bersifat transenden atau imanen. Ketiga, permanen atau baharu (berubah-ubah). Keempat, jasmani atau rohani. Kelima, objek tersebut bernilai atau tidak.

Dalam struktur realitas, ilmu sosial berada dalam level ke empat. yakni merupakan ilmu yang membahas dalam ranah relasi atas manusia. Dari situ dapat diketahui bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang ersifat banyak (plural). Sebab, ilmu sosial berjalan dalam pembahasan relasi atas manusia, dan pada dasarnya, manusia bersifat kompleks, berbeda satu sama lain. Setiap pribadi memiliki modelnya masing-masing, oleh karena itu, ilmu sosial pun bersifat banyak atau plural.

Setelah mengetahui objek dari ilmu social, dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu s0sial merupakan ilmu yang berada dalam struktur-struktur, dan mengambil bagian yang menentukan proses alam (imanen). Ilmu sosia bukan lah sessuatu yang berada jauh di atas hal-hal yang terdapat dalam pengalaman (transenden), seperti halnya Tuhan.

Berbeda dengan ilmu alam, ilmu sosial cendrung bersifat berubah-ubah, ilmu sosial memandang kebenaran tidak berifat mutlak, yang ada hanya mendekati kebenaran, Ia bergantung pada keadaan objek yang dikaji, dalam ilmu sosial saat ini, belum tentu sama dengan beberapa abad lalu atau yang akan datang. Ilmu sosial tidak dapat diprediksi seperti halnya ilmu alam karena objek-objek dari ilmu sosial berbeda dalam bentuk, struktur serta sifatnya.

Dalam buku filsafat komunikasi tulisan Dr. phil. Astrid S. Susanto, 1976. disebutkan, bahwa ilmu sosial bergerak dalam bidang mencari kebenaran ataupun pembentukan pikiran-pikiran yang dianggap benar dalam masyarakat. Sehingga dapat dilihat bahwa ilmu sosial berada dalam ruang lingkup rohani atau tidak nampak.

Dalam pertanyaan terakhir dalam ontologi yang memprtanyakan masalah bernilai atau tidaknya sebuah objek, tentunya ilmu sosial sangat bernilai. Hal itu dapat diketahui dengan berkembangbya ilmu sosial saat ini. Selain itu, ilmu sosial selalu menjadi kajian dan perdebatan hangat dalam forum-forum diskusi. Mengingat kembali objeknya bersifat unik dan sangat kompleks.

  1. Epistimologi Ilmu Sosial

Epistimologi berasal dari bahasa yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu atau teori. Artinya, epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang hakikat sebuah pengetahuan. Dapat juga dikatakan bahwa epistimologi bekerja dalam ranah metodologis sebuah ilmu pengetahuan.

Ada dua pandangan tentang ilmu social khususnya yaitu.

1.Ilmu social bersifat universal. Artinya, ilmu social tidak tergantung pada apa, siapa, kapan dan dimana dikembangkan.

2.Klaim universalitas metode ilmu social itu hanyalah klaim naïf. Pandangan ini beranggapan bahwa ilmu social berkembang seiring perkembangan masyarakat. Artinya ilmu social tumbuh dan berkembang untuk menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Universalitas tidak harus mengorbankan unsure keunikan suatu budaya.

Tapi pada dasarnya, Dalam kajian epistimologi, terdapat tiga hal yang menjadi acuan, yakni tentang asal muasal sebuah pengetahuan tersebut atau sumber pengetahuan, metode yang digunakan dalam menemukan pengetahuan, dan menguji validitas atau menguji pengetahuan tersebut.

Mengenai sumber suatu pengetahuan, ada dua sumber dasar yang melahirkan adanya sebuah ilmu pengetahuan, yaitu sumber pengetahuan yang berasal dari fisik (empiris), dan sumber pengetahuan yang berasal dari pemikiran (rasional).

Seperti yang dipaparkan oleh bapak sosiologi, Aguste comte, bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala yang muncul dalam masyarakat serta apa dampaknya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu sosial bersumber dari sebuah pemikiran atau rasional. Sebab pada dasarnya yang dipelajari adalah inti dari kejadian atau gejala yang terjadi. Gejala-gejala yang ada dalam masyarakat merupakan sebuah dampak atau efek dari sesuatu, dan ilmu sosial mempelajari tentang sesuatu itu.

Secara metodis, ilmu sosial menggunakan metode induktif, dan metode deduktif. Ilmu sosial menggunakan kedua-duanya dalam menemukan sebuah ilmu pengetahuan.

Metode induktif yakni metode yang dilakukan dengan menarik suatu kesimpulan umum berdasarkan penemuan-penemuan khusus. Sedangkan metode deduktif dilakukan dengan menarik sesuatu yang khusus dari yang umum.

Dalam mempelajari tentang gejala-gejala sosial, biasanya dilakukan dengan menggunakan metode induktif, sebab metode induktif lebih mengacu pada sesuatu yang nampak (empiris), dan sebuah gejala merupakan hal yang empirik. Sedangkan metode deduiktif bersifat rasio, dan biasanya digunakan untuk meguak apa yang ada di balik gejala tersebut.

Untuk masalah faliditas ilmu sosial, tentunya sudah terbukti dengan keberadaan ilmu sosial sendiri saat ini. Dimana dalam ilmu ssia telah menunjukkn koherensi dan korespondensi. Yakni antara pernyataan yang dikeluarkan, singkron dengan realitas yang ada.

Aksiologi Ilmu Sosial

Aksiologi secara etimologis berasal dari kata axios yang berarti nilai dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi aksiologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori yang mempelajari hakikat nilai. Landasan aksiologis yang dimaksud adalah pandangan tentang nilai yang mendasari asumsi asumsi ilmu social.

Polemic yang berkepanjangan yang menandai perkembangan ilmu-ilmu social adalah berkaitan dengan klaim bebas dan tidak bebas nilai dalam ilmu- ilmu social. Bebas nilai artinya ilmu social harus mengacu pada ilmu-ilmu alam yang berusaha menangkap hukum- hukum alam yang objektif yang tidak tercemari oleh kepentingan –kepentingan manusiawi. Ilmu social hendaknya mencari hukum-hukum sebagaimana dalam ilmu alam yang dapat diterapkan oleh siapa saja, dimana saja,dan kapan saja secara objektif. Kemudian pandangan bahwa ilmu social tidak bebas nilai atau tidak dapat dilepaskan dari nilai karena ilmu social tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, yang mau tidak mau terkait dengan nilai.

Problem tentang netralitas nilai dalam perspektif paradigma ilmu social adalah bahwa ilmu social tidak dapt dilepaskan dari nilai. Pertimbangannya adalah bahwa ilmu social pertama tumbuh dan berkembang dalam suatu kerangka budaya yang lekat dengan pertimbangan nilai. Argument ini diperkuat dengan kenyataan bahwa fenomena social berbeda dengan fenomena fisik yang bersifat mekanik.

Pada dasarnya, etos ilmu social adalah mencari kebenaran objektif atau mencari realism, yaitu suatu istilah yang salah satu artinya menunjuk pada suatu pandangan objektif tentang realitas (Gunnar Myrdal, 1981).

Objektivitas ilmu social ini adalah memandang kenyataan sebagaimana adanya (das sein) dengan menggunakan metode serta toeri social yang berdasarkan realitas objektif yang dijadikan lapangan penyelidikan. Lebih khusus lagi ilmu social dapat membebaskan diri dari warisan peninggalan yang kuat dari penulisan penulisan sebelumnya dalam bidang ilmiah yang digarap kadang kala mengandug orientasi normative dan teologis serta berlandaskan filsafat moral metafisika tentang hukum alam serta utilitarianisme yang menjadi sumber terbentuknya teori social. Selanjutnya pengaruh- pengaruh seluruh lingkungan kebudayaan, sosisal, ekonomi, politik dari masyarakat tempat ilmu social itu ditumbuh-kembangkan (Gunnar Myrdal, 1981), dan terakhir, pengaruh yang bersumber dari kepribadian sendiri, seperti yang dibentuk oleh tradisi- tradisi dan lingkungannya.

Pandangan yang benar adalah bahwa ilmu social harus membatasi dari muatan emosional, dengan lebih menekankan muatan rasional dalam memutuskan suatu masalh. Tujuan ilmu social adalah untuk menjelaskan , dan mengontrol fenomena social , namun semua itu diletakkan pada tujuan yang mulia, yaitu untuk kebaikan umat manusia. Nilai nilai social yang berkembang berdasarkan atas beberapa prinsip, diantaranya persamaan dan kebersamaan, keadilan social serta keterbukaan dan musyawarah.

Kesimpulan

Dari pemaparan singkat di atas, dapat diketahui tentang wujud atau sifat dasar , hakikat, dan hakikat nilai yang terdapat dalam ilmu social. Dan secara garis besarnya, dapat difahami tentang eksistensi ilmu social.

Sebagaimana tertera di atas, bahwa ilmu sosial merupakan ilmu yang berkebang berdasarkan rasio. Sedangkan hal yang bersifat empirik adalah merupakan sebuah dampak atau efek dari sesuatu, dan ilmu social berada dalam pembahasan sesuatu itu.

Secara metodologis, dalam ilmu social penggunaan metode digunakan secara kompleks. Hal itu dekarenakan objek ilmu social yang bersifat berebeda secara fisik, struktur, serta sifatnya.

Dalam tataran nilai, pada dasarnya ilmu social sama dengan ilmu yang lain. Yakni pengabdian kepada masyarakat. Perbedaannya hanya pada bidang geraknya, ilmu social bergerak dalam bidang mencari kebenaran a priori ataupun pembentukan pikiran-pikiran yang dianggap benar di masyarakat.

Daftar pustaka

Santoso, Heri dan Listiyono Santoso. 2003. filsafat ilmu sosial. Yogyakarata : gama media.

Ricoeur, Paul. 2006. Hermeneutika Ilmu Sosial. Yogyakarta : Kreasi wacana.

Susanto, Astrid S. 1976. filsafat komunikasi. Bandung : binacipta.